BERANDA

Sabtu, 14 Mei 2011

Pendidikan Karakter Terletak pada Aspek Afektif

Dalam sebuah wawancara usai upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional di halaman gedung Kementerian Pendidikan Nasional, 2 Mei 2011, Mendiknas Prof. Mohammad Nuh, DEA. mengatakan, konsep pendidikan karakter sudah disiapkan sejak 2010. Pada tahun ajaran 2011-2012 mendatang, pendidikan karakter akan diterapkan di semua jenjang pendidikan, mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Pendidikan Tinggi.

Lalu karakter seperti apa yang hendak ditanamkan ke diri peserta didik, terutama siswa-siswi di jenjang pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama)? Sikap seperti apa yang diharapkan muncul pada diri siswa? Lalu bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam mata pelajaran di sekolah? Bagaimana pula evaluasi terhadap penerapan pendidikan karakter di sekolah? Berikut ini petikan wawancara dengan Dr. Bambang Indriyanto, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemdiknas, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin sore (9/5):


Bagaimana konsep pendidikan karakter?
Sekarang pencanangan pendidikan karakter masih bersifat pencanangan dalam arti kebijakannya dulu. Ditjen Pendidikan Dasar sebetulnya sudah merintis program-program pendidikan karakter. Pendidikan karakter dimensinya berbagai macam, ada dimensi kreativitas, kejujuran, kedisiplinan.
Seperti pendidikan lalu-lintas, itu pendidikan karakter yang menekankan dimensi disiplin. Pendidikan antikorupsi, kita juga sudah terapkan. Juga ada pendidikan lingkungan hidup. Ini sebetulnya merupakan dimensi-dimensi pendidikan karakter yang sudah diterapkan di jenjang pendidikan dasar.
Nanti ketika sudah dicanangkan, kita akan memperluas dan melihat bagaimana kebijakan lebih lanjut. Paling tidak Ditjen Pendidikan Dasar telah mengambil inisiatif. Permasalahannya pada inventory saja, reinventing yang sudah kita lakukan. Kita lebih luas-formalkan menjadi satu bagian dari pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar.


Selain nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan kreativitas, apalagi nilai-nilai lain yang diangkat sehingga siswa menginternalisasi nilai-nilai tersebut?

Kita melihat, sebenarnya, karakter bukan pada aspek kognitif, tapi aspek afektifnya. Cuma aspek afektif tidak bisa teraktualisasi secara maksimal tanpa ada kognitif. Orang menjadi jujur, juga harus tegas. Karena definisi kejujuran itu memerlukan pertimbangan-pertimbangan intelektual sehingga dia bisa tidak kelihatan naif saat jujur. Kreativitas juga sebuah aspek yang non-kognitif, tetapi untuk bisa kreatif orang juga harus cerdas dalam mengaktualisasikan kreativitas tersebut.


Apakah penerapan pendidikan karakter dalam bentuk mata pelajaran?
Ada dua track yang akan kita lakukan. Kita integrasikan di mata pelajaran (intrakurikuler) dan ekstrakurikuler. Seperti pendidikan lalu lintas, di ekstrakurikuler bagaimana anak bisa menghargai pengguna jalan. Pendidikan antikorupsi lewat warung kejujuran. Tentang lingkungan hidup, bagaimana mereka menanam pohon di sekolah dan memelihara kebersihan sekolah. Lalu ada pendidikan akhlak mulia, bagaimana anak-anak terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagaman di sekolah.


Karakter apa yang hendak dibentuk sehingga seorang anak dapat dikatakan berkarakter?
Karakter itu, kan, semacam nilai-nilai gabungan (komposit). Ada satu pihak yang disiplin dan pandai, disiplin dan jujur, disiplin dan kreatif, ada juga kreatif dan disiplin. Kombinasi-kombinasi. Kita sekarang belum mempunyai suatu alat ukur untuk mengukur keberhasilan pendidikan karakter. Sekarang kita masih mengarahkan bahwa keberhasilan anak dalam mengikuti program pendidikan tidak hanya pintar saja, tetapi paling tidak pintar dan jujur, pintar dan berakhlak mulia. Kreatif tentunya juga kita harapkan.


Apakah karakter bisa diukur?
Kalau dari ilmu sosial bisa diukur, cuma kita harus menggunakan konstrak-konstrak yang jelas tentang apa yang namanya berkarakter.


Apa sekarang sedang dirumuskan?
Kita lihat perkembangan, tetapi sekali lagi kita sudah melakukan pembinaan-pembinaan tentang kejujuran, kedisiplinan, dan kreativitas. Tinggal reinventing saja. Di-inventory, diidentifikasi tentang apa yang sudah kita lakukan pada jalan yang benar atau belum. Insya Allah itu sudah pada jalan yang benar karena sudah berlangsung umum.


Apakah dilakukan evaluasi terhadap penerapan pendidikan karakter di sekolah?
Langkah pertama akan kita lihat bagaimana keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang mencerminkan disiplin. Itu saja dulu. Kalau mereka sudah terlibat di situ, sudah kita anggap keberhasilan pada tahap awal.


Siapa yang melakukan evaluasi?
Pemerintah Pusat, Ditjen Dikdasmen waktu itu.


Bentuknya seperti apa?
Pemantauan-pemantauan tentang keterlibatan anak, belum pada perubahan sikap.


Pakai instrumen?
Iya, yang mengukur keterlibatan.


Pendidikan karakter diawali dari keinginan mengubah perilaku siswa. Kira-kira dalam jangka pendek dan menengah, perilaku apa yang diharapkan berubah, seperti tak lagi tawuran?
Perubahan sikap bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Kita harus tahu bahwa sekolah tidak bisa mengontrol perilaku anak ketika di luar ruang kelas. Dari sudut padang pedagogis, ruang kelas anak tidak hanya ruang kelas dalam arti konvensional. Tetapi ketika dia ada di luar, itu ruang kelas anak di mana dia berguru pada orang dewasa. Ini yang kita katakan tidak independen, steril dari pengaruh-pengaruh di luar kehidupan ruang kelas itu.


Berarti harus ada upaya melibatkan orangtua dan masyarakat?
Sebetulnya yang mudah harus ada role model, contoh. Contoh itu anggota masyarakat, anggota partai. Guru contoh langsung. Orangtua juga. Dalam sudut pandang pedagogis, ruang kelas itu ruang kelas tanpa dinding, borderless classroom. Ini yang tidak bisa guru kendalikan. Siswa, kan, tidak boleh dihadapkan pada nilai-nilai yang kontradiktif. Apa yang diajarkan sekolah harus kurang-lebih sejalan dengan apa yang ada di luar ruang kelas.


Jadi tolak ukurnya susah untuk ditentukan?
Tidak susah, tetapi seberapa lama itu bertahan, itu yang susah. Apakah ketika dia lulus, kita jamin bekerja. Pendidikan hanya memberikan dasar dengan harapan ketika dia bekerja akan seperti waktu sekolah.

1 komentar:

  1. Thanks gan udah share , blog ini sangat bermanfaat .............................



    bisnistiket.co.id

    BalasHapus